Tentang Pembelajaran Tatap Muka

Pada bulan November lalu, Mendikbud mengeluarkan keputusan membolehkan kegiatan Pembelajaran Tatap Muka mulai Januari 2021, dengan 3 kondisi/syarat :

  1. ada izin dari 3 pihak, yaitu pemerintah daerah, sekolah dan orang tua
  2. Sekolah yang bersangkutan memenuhi checklist sebagai berikut
    • ketersediaan sarana kebersihan, seperti tempat cuci tangan atau hand sanitizer dan disinfektan
    • mampu mengakses fasilitas pelayanan kesehatan
    • kesiapan menerapkan wajib masker
    • memiliki thermogun
    • memiliki pemetaan warga satuan pendidikan yang memiliki komorbid tidak terkontrol, tidak memiliki akses terhadap transportasi yang aman, hingga mereka yang memiliki riwayat perjalanan ke daerah denagn resiko tinggi maupun pernah kontak erat dengan pasien covid-19
    • mendapatkan persetujuan komite sekolah atau perwakilan orang tua siswa
  3. Terapkan protokol kesehatan dengan ketat

Yang saya bisa baca dari keputusan ini adalah pemerintah pusat melemparkan beban tanggung jawab keputusan kapan sekolah regular bisa dimulai lagi kepada pemerintah daerah, sekolah dan orang tua murid. Mungkin mereka juga sudah pusing dikejar pertanyaan kapan sekolah regular boleh dimulai?

Sekarang, mari kita lihat checklist yang harus dipenuhi supaya sekolah bisa dibuka
# ketersediaan sarana dan prasarana kebersihan, seperti tempat cuci tangan, hand sanitizer dan disinfektan
kalo sekedar tempat cuci tangan dengan sabun, saya kira sekolah bisa menyediakan, tapi hand sanitizer dan disinfektan mungkin akan menjadi kendala biaya bagi banyak sekolah

# mampu mengakses fasilitas pelayanan kesehatan
ini syarat yang mudah di wilayah perkotaan, tapi ini sebenarnya adalah isyarat bahwa masih ada resiko penularan, jadi kalo ada apa apa, bisa segera ke puskesmas atau RS

# kesiapan menerapkan wajib masker
sepertinya mudah, tapi memastikan anak-anak memakai masker sepanjang waktu adalah mission impossible

# memiliki pemetaan warga satuan pendidikan yang memiliki komorbid, perjalanan dan kontak erat
ini yang mustahil
tidak semua orang tahu kalo sudah memiliki penyakit bawaan tertentu, siapa yang bisa tracing riwayat perjalanan semua warga satuan pendidikan, guru dan siswa, termasuk keluarganya, apalagi siapa yang pernah kontak erat dengan pasien positif 

Kemudian syarat terakhir, harus bisa menerapkan protokol kesehatan dengan ketat
Hahahahahaha…..
Coba kasih contoh di mana yang sudah bisa berhasil menerapkan protokol kesehatan dengan ketat?
Mengatur orang dewasa saja, Republik ini masih kesulitan, apalagi sekarang kita mau mengatur anak-anak yang mungkin belum sepenuhnya memahami resiko

Saya yang tadinya berharap kalo proses Pembelajaran Tatap Muka bisa segera dimulai kembali setelah proses vaksinasi covid dilaksanakan di tahun 2021
Tapi kemudian galau saat membaca kalo vaksin yang akan disediakan oleh pemerintah, produksi SINOVAC, hanya ditujukan untuk orang dewasa umur 18-59 tahun
artinya anak-anak di TK/SD/SMP/SMA belum akan bisa mendapatkan vaksin covid iniinipun termasuk Bapak/Ibu guru yang sudah berumur di atas 59 tahun, padahal 2 kelompok ini, di bawah 18th dan di atas 59th, yang justru paling rentan terinfeksi kalo sekolah regular dimulai kembali

Bagaimana menurut kawans?
Apakah akan setuju mengirimkan anak-anak ke sekolah sebelum vaksinasi dan hanya mengandalkan mereka menjalankan protokol kesehatan dengan benar?