So called ‘Akademisi’

Tanggal 14 Agustus 2013 kemaren, kita dikejutkan oleh berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh KPK, menangkap RR – Kepala SKK Migas (mantan Wamen ESDM) menerima suap dari perusahaan migas KOPL yang berbasis di Singapore.

tahanan KPK

RR ditahan KPK

Penangkapan ini mengejutkan karena RR dianggap pejabat yang berasal dari akademisi, kata lain nya dosen dari perguruan tinggi (ITB), yang diasumsikan bersih. Diasumsikan. Buat saya seh tidak perlu terkaget-kaget lagi. Ini bukan kejadian pertama akademisi yang diasumsikan akan bersih ternyata sama saja. Jadi mereka yang berteriak dari luar system, biasanya karena belum pernah berada dan berasa dalam system saja.

rudi naik kereta ekonomi saat mudik lebaran

rudi naik kereta ekonomi saat mudik lebaran, seminggu sebelum tertangkap

Mari mengingat sejenak ke pemilu 2004, Pemilu pertama yang memilih Presiden secara langsung. Dibentuk KPU pertama yang bukan lagi perwakilan partai seperti pemilu 1999, yang ternyata sangat korup. KPU untuk Pemilu 2004 ini diisi sebagian besar oleh akademisi / dosen perguruan tinggi, yang dikenal vokal dan diasumsikan bersih.

KPU

Tapi apa kenyataan yang terjadi?

Setidaknya 3 orang anggota KPU yang berlatar belakang akademisi ditahan oleh KPK karena terlibat kasus korupsi penyelenggaraan KPU, Daan Dimara, Mulyana W Kusumah dan Ketua KPU sendiri Prof. Nazarudin Syamsudin. Ketiganya dinyatakan bersalah dan dihukum untuk tiga kasus yang berbeda.

Daan Dimara

Daan Dimara dalam persidangan

nazarudin

Prof. Nazarudin – Ketua KPU

mulyana

Mulyana W Kusumah

Jadi kalo anda lihat di TV, ada dosen yang biasanya menyebut dirinya sebagai pengamat, dan berkomentar keras tentang kasus korupsi yang sedang dibahas,